
MNOL, Jakarta – Tepat 15 Novemver 2016, Korps Marinir TNI AL menginjak usia 71 tahun. Selama kurun waktu itulah Korps Baret Ungu ini berdedikasi untuk mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bermula di Pangkalan IV ALRI Tegal yang memiliki Corps Mariniers sebagai cikal bakal berdirinya Angkatan Laut Pendarat yang tangguh dan penuh dedikasi.
Tokoh-tokoh Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Jakarta seperti Adam, Ali Sadikin, Hartono, Moekijat dan sebagainya diutus oleh Kasal pertama Laksdya Mas Pardi untuk memperkuat ALRI Tegal. Di situlah mereka menginisiasi berdirinya Corps Mariniers sebagai pasukan tempur dan pendarat yang dimiliki oleh ALRI.
Setelah berdirinya korps ini, sepak terjang Corps Mariniers banyak bertempur di darat dan pegunungan. Bersama pasukan dari matra darat, Corps Mariniers banyak melakukan perang gerilya dalam rangka membendung serangan Belanda melalui berbagai agresinya.
Namun seiring perkembangan zaman, semua unsur kemananan dan pertahanan laut serta pantai di wilayah Indonesia dileburkan menjadi satu. Kemudian memunculkan nama baru, yaitu Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut berdasarkan SK Menteri Pertahana Nomor A/565/1948 tertanggal 9 Oktober 1948.
Dalam pertengahan tahun 1950-an pasca Republik Indonesia Serikat (RIS), KKO sudah memiliki personel sebanyak 8.000. Korps ini begitu berjasa memadamkan pemberontakan yang sering terjadi saat itu. Sebut saja pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), DI/TII di Jawa Barat, Aceh, Kalsel dan Sulsel, serta PRRI/Permesta di Sumatera Barat dan Sulawesi Utara.

Tidak sedikit prajurit andalan TNI AL itu yang gugur dalam rangka mempertahankan tegaknya NKRI yang berdasar Pancasila. Di antaranya Sutedi Senaputra, yang gugur dalam operasi penumpasan Permesta di Sulawesi Utara, yang kemudian namanya diabadikan menjadi salah satu Kapal Perang Republik Indonesia (KRI).
Pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959, KKO bak menjadi anak emas Bung Karno. KKO menjadi satu-satunya korps yang diserahkan panji kebesaran oleh Sang Proklamator tersebut dengan semboyan Jaleshu Bhumyamca Jayamahe, ‘Di Laut dan Darat Kita Jaya’.
Dalam rangka operasi Trikora membebaskan Irian Barat dan Dwikora untuk membebaskan Kalimantan Utara, korps ini terlibat penuh dan tercatat bersama RPKAD (sekarang Kopassus) bertempur mati-matian melawan pasukan Belanda di Irian Barat dan Inggris di Kalimantan.
Salah satu peristiwa heroik ialah dalam misi intelijen pengeboman Gedung Macdonal di Orchad Raod, Singapura (yang waktu itu masih menjadi Federasi Malaysia). Nama Usman dan Harun muncul sebagai aktor utama dalam peristiwa ini, yang kemudian mendapat gelar sebagai pahlawan nasional usai dihukum mati oleh Pemerintah Singapura.
Dalam peristiwa 1965/1966, prajurit KKO menjadi pengangkat jenazah Pahlawan Revolusi yang meninggal di Lubang Buaya. Pasca peristiwa ini, KKO nyaris dihadapkan pada konflik antar matra ketika Komandan KKO saat itu, Mayjen TNI KKO Hartono menginstruksikan pasukannya untuk mem-back up Bung Karno apapun yang terjadi.
Namun karena kebesaran jiwa dari Pemimpin Besar Revolusi (PBR), konflik yang meluas dapat dicegah demi persatuan dan kesatuan bangsa. Perlu diketahui, Pimpinan KKO masa itu, Mayjen TNI KKO Hartono dan Letjen TNI KKO Ali Sadikin merupakan Perwira-perwira Tinggi yang dekat dengan Bung Karno. Ali Sadikin kemudian diberikan jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta, masa bakti 1966-1977.
Memasuki era Orde Baru, KKO berganti nama menjadi Korps Marinir yang didasarkan pada Surat Menhankam/Pangab No B-3118/01/4/75/set tanggal 13 November 1975 serta Surat Keputusan KASAL No Skep/1831/XI/1975 tertanggal 14 November 1975. Nama itu terus melekat hingga saat ini.

Pada masa itu, Korps Marinir TNI AL pernah terlibat dalam Operasi Seroja untuk menumpas Fretelin di Timor-Timur. Berdasarkan data yang dihimpun dari Subdisjarah Dispenal, tercatat operasi amfibi yang digelar oleh Korps Baret Ungu ke Timor-Timur ini merupakan operasi terbesar yang pernah dilakukan oleh TNI AL.
Pada akhir Pemerintahan Orde Baru, Mei 1998, Korps yang saat itu dipimpin oleh Mayjen TNI Mar Suharto turut berkiprah dalam mengamankan situasi Ibukota. Kehadirannya di tengah-tengah konflik banyak mendapat respons dari mahasiswa dan masyarakat, sehingga ada sebutan ‘Marinir teman Mahasiswa’ pada saat itu.
Pasca Reformasi, tugas demi tugas untuk mempertahankan NKRI kembali memanggil patriot-patriot Korps Marinir TNI AL. Di antaranya dalam Konflik Timor-Timur tahun 1999 yang berakhir pada Referendum Timor Leste. Selanjutnya dalam meredakan konflik horizontal yang berbau SARA di Ambon, Poso, Sampit dan daerah-daerah lainnya kurun waktu 1999-2002.
Dalam pemberlakuan Darurat Militer di Aceh tahun 2003, Korps ini tidak ketinggalan untuk terlibat mempertahankan tegaknya NKRI. Lagi-lagi kehadirannya, begitu mendapat antusias masyarakat Aceh yang mengalami trauma akibat konflik berkepanjangan.

Hingga saat ini di era Poros Maritim Dunia, Korps Marinir TNI AL terus melakukan dedikasinya dalam bentuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Salah satunya dalam program Save Our Litoral Life (SOLL) pada 2015 silam untuk menyelamatkan ekosistem laut guna mendukung poros maritim dunia. Event itu mendapat respons yang positif dari Presiden Joko Widodo, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan seluruh nelayan di Indonesia.
Memasuki usia yang ke-71, Korps ini terus diandalkan oleh segenap bangsa Indonesia yang kini tengah bertransformasi menjadi bangsa maritim yang besar, digdaya dan berwibawa. Jaya terus Korps Marinir TNI AL, bersama membangun Poros Maritim Dunia, Jaleshu Bhumyamca Jayamahe!!!!!
