*Ardinanda Sinulingga
Dalam salah satu karyanya yang berjudul Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer menuliskan secara menarik tentang Nusantara dengan segala kemegahannya sebagai kesatuan maritim, sebagai kekuatan bahari yang jaya dan epos pasca kejayaan Majapahit sampai pada saat segalanya berubah, kekuasaan dilaut menjadi kekuatan darat yang mengkerut di pedalaman, kemuliaan menukik kedalam kemerosotan, kejayaan berubah ke kekalahan, kecermelangan cendikia menjadi kedunguan dalam penalaran, kesatuan dan persatuan berubah menjadi perpecahan yang memandulkan segala kegiatan.
Ini semua terjadi tulisnya karena kita mengingkari jati diri kita sebagai bangsa bahari, ataupun menjadi bangsa pelaut yang menguasai samudra sebagaimana diucapkan Bung Karno dalam Pembukaan Munas Maritim tahun 1963, “Kita satu persatu, seorang demi seorang harus mengetahui bahwa indonesia, Ia tidak bisa menjadi kuat, sentausa sejahtera, jikalau kita tidak menguasai samudra, jikalau kita tidak kembali menjadi bangsa samudera, jikalau kita tidak kembali menjadi bangsa bahari, bangsa pelaut sebagaimana kita kenal pada zaman bahari”.
Lantas pertanyaannya kemudian dalam konteks kekinian bagaimana kita membangun Indonesia sebagai negara maritim yang kuat? Pertanyaan demikian sangatlah wajar mengingat kondisi geografis Indonesia yang dua pertiga wilayahnya adalah lautan dan juga memiliki tradisi kejayaan di bidang kemaritiman. Secara garis besar buku karya Laksamana TNI (Purn) Dr. Marsetio, yang berjudul “Sea Power Indonesia” ingin menjawab pertanyaan awal diatas dan merekomendasikan cara untuk kita mencapai tujuan tersebut.
Sebelum membahas lebih lanjut, penulis tertarik untuk merefleksikan diskursus publik beberapa tahun belakangan yang banyak berbicara mengenai pentingnya pembangunan berbasiskan maritim. Ada semacam kerinduan dari para aktivis, akademisi, tokoh budaya dan segenap komponen bangsa yang dituangkan dalam bentuk tulisan, wacana di tempat seminar dan kajian akademik bahwa sudah saatnya kita berupaya untuk mengembalikan pembangunan Indonesia berbasiskan maritim. Semangat ini muncul tampaknya karena mulai tumbuh kesadaran bersama bahwa terjadi anomali pembangunan di negeri ini yang lebih bervisi darat dari pada bervisi maritim, sehingga laut dengan segala potensinya belum dioptimalisasikan sebagai satu kekuatan utama padahal meminjam ucapan Napoleon politik negara berada dalam geografinya. Dengan kata lain, idealnya dasar politik dan pembangunan kita seharusnya sesuai dengan kondisi geografis yang kita miliki, yakni visi maritim sebagai penuntun.
Inti dari buku ini menawarkan cara pandang bagaimana seharusnya kita sebagai negara maritim mampu mengunakan dan mengendalikan laut (sea control) serta mencegah pihak lain menggunakannya (sea denial), sehingga laut dengan segala aspeknya mampu menjadi kekuatan politik dan ekonomi bagi Indonesia. Terkait dengan upaya pengendalian laut tersebut kaitannya dengan sea power yang dimiliki suatu negara tidaklah dapat dipisahkan. Sea power tidak berarti hanya armada kapal perang saja, tetapi mencakup segala potensi kekuatan nasional yang menggunakan laut sebagai wahananya, seperti penegak hukum di laut, armada kapal niaga, pelabuhan, serta industri dan jasa maritim (hal xix).

Dalam buku ini diuraikan juga, visi maritim yang dimaksud tidak berarti berpaling dari visi agraris yang telah berkontribusi dalam pembangunan nasional. Visi maritim tidak juga berarti meniadakan visi dirgantara. Tetapi bagi negara kita, membangun visi maritim berarti membangun negara melalui optimalisasi potensi sumberdaya nasional yang dimiliki oleh negara kepulauan untuk saling bersinergi. Dengan kata lain seperti penjelasan Andi Wijayanto yang dikemukan dalam kata sambutan di buku ini bahwa untuk menjadi suatu kekuatan maritim, Indonesia harus terlebih dahulu membangun suatu visi maritim yang bersinergi dengan visi agraris dan visi dirgantara dalam bingkai negara kepulauan.
Secara umum untuk memahami apa yang hendak disampaikan dalam buku ini dapat dibagi dalam tiga bagian besar. Pertama, buku ini mencoba menjelaskan landasan historis kita sebagai bangsa bahwa kita memiliki warisan-warisan kejayaan dari leluhur yang pernah berjaya di nusantara dengan visi maritim. Mengutip sejarawan Inggris Arnold Toynbee mengatakan, sejarah itu pasti berulang, apa yang telah terjadi pada masa lalu, pada saat tertentu akan kembali terulang (hal xx). Dengan alur pemikiran demikian, untuk memahami tantangan kedepan buku ini mencoba merefleksikan kejayaan kerajaan nusantara sebagai satu upaya refleksi untuk dijadikan sebagai pijakan dalam memahami dan menghayati jatidiri bangsa sebagai modal untuk memiliki habitus sebagai bangsa maritim. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dapat dijadikan contoh bagaimana pengendalian dan pemanfaatan laut menjadi sumber kekuatan dan akhirnya membawa kerajaan tersebut disegani ketika itu.
Kedua, berubahnya dinamika lingkungan strategis kawasan Asia Pasifik pada satu dasawarsa pertama abad ke-21 yang menandakan bergesernya bandul politik, ekonomi dan keamanan dunia dari Transatlantik ke kawasan Asia Pasifik secara langsung dan tidak langsung berimplikasi kepada Indonesia. Kawasan Asia Pasifik yang didominasi oleh perairan yang membentang luas dari pantai timur Pulau Sumatra hingga pantai barat Amerika Serikat akan menimbulkan dinamika baru yang sangat dipengaruhi oleh domain maritim. Dengan kondisi demikian, dalam buku ini diuraikan sudah saatnya Indonesia tidak hanya berada dalam zona nyaman dan terjebak dalam jawaban yang bernuansa “klasik dan konservatif”, yaitu hanya berkisar pada posisi strategis Indonesia dikawasan asia pasifik tetapi kita tidak mampu memanfatkannya untuk kejayaan Indonesia. Sudah saatnya TNI Angkatan Laut sebagai komponen utama Sea Power Indonesia mampu meningkatnnya perannya secara nyata dengan penguatan alustista dan kualitas sumber daya manusianya. Berubahnya dinamika lingkungan strategis inilah yang menjadi salah satu alasan bagi kita untuk segara membangun Sea Power sebagai salah satu penunjang visi maritim Indonesia.
Ketiga, Konsep Sea Power Indonesia. Dalam buku ini diuraikan secara mendalam bagaimana kita membangun Sea Power dalam lingkung Indonesia dan apa yang menjadikannya berbeda dengan negara lain. Marsetio merumuskan upaya strategis untuk mengembangkan kekuatan maritim Indonesia dan menginditifkasikan enam sumber instrumen penting kekuatan maritim, yaitu kondisi geografis, luas wilayah, jumlah penduduk, karakter bangsa maritim dan karakter pemerintah. Keenam sumber instrumen ini, haruslah dilaksanakan dengan suatu pendekatan yang menyeluruh demi terbentuknya kekuatan maritim Indonesia serta dimulai dengan gebrakan perubahan paradigmatik yang memandang laut sebagai kekuatan utama.
Buku Sea Power Indonesia ini secara menyeluruh telah menghadirkan tantangan baru konsep pembangunan Indonesia kedepan. Konsepnya sudah jelas, Visi Maritim sebagai kekuatan utama untuk mewujudkan kejayaan Indonesia dimasa yang akan datang. Sebagaimana sebuah konsep tentunya akan tampil pula berbagai tantangan untuk mengaplikasikan visi strategis tersebut. Maka atas dasar itulah dibutuhkan kejernihan pemikiran dari segenap para pemangku kepentingan di republik ini untuk menyadari secara bersama bahwa kekuatan maritim Indonesia akan terwujud jika bangsa ini berani keluar dari zona nyamannya dan mengembalikan arah orientasi pembangunan nusantara sesuai dengan kondisi geografis yang kita miliki.
*Penulis adalah peneliti di Institute for Maritime Studies (IIMS) dan merupakan lulusan dari pascasarjana bidang keamanan maritim Universitas Pertahanan Indonesia.
*Tulisan ini sebelumnya sudah pernah dimuat di Majalah Jurnal Maritim Edisi 19 November 2014
informasi terkait buku tersebut:
Judul : Sea Power Indonesia
Penulis : Laksamana TNI (Purn) DR. Marsetio
Penerbit : Universitas Pertahanan
Tahun : 2014
Halaman : (xxi +164 hlm; 16 x 23 cm)
ISBN : ISBN 978-602-17915-1-6

