Foto Bersama - Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah dengan para pembicara Bedah Buku My Fish My Life di Auditorium, Kampus FISIP UIN, Ciputat, Jakarta (4/10)
Foto Bersama – Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah dengan para pembicara Bedah Buku My Fish My Life di Auditorium, Kampus FISIP UIN, Ciputat, Jakarta (4/10)

MNOL, Jakarta – Acara Bedah Buku My Fish My Life karya Letkol Laut (P) Salim yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Auditorium FISIP UIN, Ciputat, Banten, (4/10/16) mengusung semangat Sea Power Indonesia dalam membangun kemaritiman nasional.

Acara yang menghadirkan langsung Letkol Laut (P) Salim selaku penulis buku itu juga bertindak sebagai pembicara yang mengulas garis besar buku keempatnya itu. Dia membuka pemaparan dengan penjelasan kondisi karut marutnya pengelolaan laut Indonesia sehingga rakyat tidak bisa menikmati kekayaan lautnya.

“Jumlah kekayaan laut kita mencapai tujuh kali jumlah APBN kita saat ini. Tetapi apa yang terjadi? Bangsa kita saja susah makan ikan,” ujar Salim.

Ulasnya, sebagaian besar kekayaan laut Indonesia dinikmati oleh asing. Dan ini merupakan bentuk melemahnya karakter bangsa terkait kepeduliannya terhadap laut.

Lulusan AAL tahun 1995 ini menyatakan hal itu terjadi karena kita sudah sekian lama dijajah oleh Belanda yang mengubah paradigma semangat bahari menjadi semangat kontinental.

“Lihat saja banyak dari kita masih sering mengenyek (bahasa Jawa, meledek-red), ‘ke laut aja loe’. Ini menandakan bahwa laut itu sebagai tempat buangan untuk orang-orang yang tak berguna,” seloroh dia.

Seperti biasa, dalam pemaparan Pamen TNI AL berpangkat Melati Dua ini tidak terlepas dari perjalanan sejarah Nusantara. Bahkan dengan menggelitik dia mengungkapkan bahwa Nusantara itu berasal dari kara ‘Nuh’ dan ‘Santara’, yang berarti tanah Nabi Nuh AS yang kosong pasca banjir besar.

Selanjutnya, berdirinya Sriwijaya, Majapahit dan Kesultanan-kesultanan Islam juga mencerminkan karakter maritim sebagai ruh kehidupannya. Di mana usia kerajaan-kerajaan itu lebih dari 100 tahun usianya.

“Lalu bagaimana dengan NKRI kita? Baru berusia 71 tahun. Apakah ini masih berlanjut atau tidak ya itu di tangan anda-anda semua sebagai mahasiswa,” katanya sambil memotivasi.

Selain Letkol Laut (P) Salim pembicara dalam seminar tersebut ialah Dosen HI UIN Ahmad Saifudin Zuhri yang mengulas secara geopolitik mengenai perkembangan konflik Laut China Selatan.

Menurutnya, China memiliki kepentingan yang tinggi terhadap Laut China Selatan khususnya dan Indonesia pada umumnya. “Bukan hanya kekayaan Sumber daya alamnya saja yang diinginkan China, tetapi secara posisi strategis, Indonesia juga begitu diminati oleh kepentingan politik China,” tandas Zuhri biasa akrab disapa.

Sementara itu perwakilan dari Kementerian kelautan dan Perikanan (KKP) Ir. Tukul Rameyo Adi yang mewakili Plt Dirjen Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar mengurai soal kemampuan Indonesia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan agar dapat mengelola kekayaan lautnya.

“Kita harus mengembangkan teknologi agar kita tidak bisa didikte oleh asing,” kata Tukul dengan lantang.

Karena sebelumnya ada fenomena tudingan dari AS soal rumput laut yang dapat menyebabkan kanker sehingga penjualannya merosok yang mengakibatkan pembudi daya rumput laut merugi. Tegasnya, untuk menepis tudingan itu kita perlu membuktikan secara ilmu pengetahuan.

“Ketika Amerika mengeluarkan pernyataan itu secara ilmiah kita tidak bisa menimpalinya karena kita belum mampu membangun penelitian terkait itu,” ungkapnya.

Sehingga IPTEK menjadi suatu basis terpenting dalam membangun tata kelola kelaitan nasional. Kemudian dia juga mengingatkan untuk membangun teknologi namun tidak melaupakan kearifan lokal kita.

“Kalau kearifan lokal kita tidak dilestarikan jangan heran nanti jika banyak negara lain mengadopsi ilmu kita lalu mendominasi kita,” pungkasnya.

Acara tersebut dimoderatori oleh Muhammad Sutisna yang merupakan lulusan FISIP UIN dan kini concern membangun kajian-kajian kemaritiman khususnya di bidang hankam. (Tan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Twitter Instagram Linkedin Youtube