Oleh: Ahlan Zulfakhri*

jogdas_20150807064813MN – Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan sebuah sejarah yang akhirnya melahirkan Indonesia. Dalam sejarah tercatat bahwa kebangkitan Indonesia untuk meraih kemerdekaan dimulai sejak sumpah pemuda. Sumpah ini memiliki arti cukup ideologis dan berhasil membentuk Indonesia bukan sebagai Negara melainkan sebagai bangsa.

Ini menjadi catatan penting, bahwa berdirinya sebuah Negara diukur dari berbagai parameter mulai dari wilayah, pemerintahan, rakyat, simbol Negara dan diakui oleh Negara lain. Namun, bicara bangsa bicara mengenai parameter ideologis yakni tanpa syarat namun memiliki rasa persatuan yang cukup kuat. Inilah sudut pandang Sumpah Pemuda dari segi ideologis yang perlu diingat kembali bahwa Indonesia lahir sebagai sebuah bangsa, bukan Negara.

Pembangunan Maritim tentunya sangat erat dengan sejarah Sumpah Pemuda yang terjadi. Jika kita mencoba untuk flash back ke belakang, pada saat itu apa yang melatar belakangi para pemuda bersatu selain memiliki satu rasa yakni penjajahan. Tentunya perbedaan daerah, warna kulit, dan bahasa menjadi salah satu alasan kuat untuk dapat menjadi pemersatu.

Indonesia yang tercipta sebagai bangsa yang terdiri dari pulau-pulau merupakan sebuah potensi yang sangat besar. Saat itu bisa disimpulkan bahwa para pemuda menyadari betul perannya untuk dapat mempersatukan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Pertanyaan kemudian muncul dari mana mereka tahu bahwa ada perbedaan dari satu wilayah dengan wilayah lainnya? Tentunya dengan adanya aktivitas perdagangan yang kerap berlangsung di masing-masing daerah.

Ketika pada saat itu alat transportasi belum memadai alur perdagangan, melalui kapal para saudagar yang singgah di pelabuhan-pelabuhan antar daerah menjadi sangat penting untuk disampaikan mengingat khitah (jatidiri) dari bangsa Indonesia merupakan bangsa maritim.

Sumpah Pemuda dan Visi Maritim

Konsep pembangunan maritim dalam sejarah dapat terlihat dari seorang Soekarno yang mampu mengejawantahkan gagasan maritim dalam tindakan-tindakan konkret. Sebagai seorang teknokrat dan negarawan, Soekarno melihat maritim sebagai sebuah potensi besar bangsa indonesia. Dalam sebuah pidato yang pernah disampaikannya.

“Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya, bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekedar menjadi jongos-jongos di kapal, bukan. Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawala samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.” pidato Presiden Pertama RI Soekarno pada 1953, dalam rangka meresmikan Institut Angkatan Laut.

Hal tersbut seiring dengan dukungan struktural tata negara dengan menempatkan Ali Sadikin pada kabinet Dwikora I dan II. Selanjutnya diteruskan oleh Jatidjan pada kabinet Ampera II. Ini mengartikan bahwa gagasan maritim yang diusung menjadi sebuah prioritas di setiap kesinambungan kepemimpinan.

Irisan Sumpah Pemuda dan pembangunan maritim menjadi sangat penting mengingat latar belakang lahirnya bangsa ini adalah pemuda. Diprakarsai dengan adanya Sumpah Pemuda menjadi melting pot, yakni wadah para pemuda untuk menuangkan gagasannya dengan tujuan memerdekakan Indonesia. Sama halnya saat ini, dengan pembangunan maritim yang sedang berjalan dan menjadi visi pemerintah.

Dibutuhkan tekad kuat untuk dapat mendorong pemuda menjadi ujung tombak dalam pembangunan maritim. Jika kita melihat bonus demografi Indonesia jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar sebesar 70 persen. Angka tersebut akan terjadi pada 2020-2030, data tersebut disampaikan oleh Plt Deputi Bidang Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Ida Bagus Permana.

Bonus demografi merupakan potensi besar yang akan dimiliki Indonesia beberapa tahun ke depan. Artinya dengan gagasan maritim yang saat ini ada, tentunya perlu penguatan, sekaligus pemberdayaan pemuda untuk dapat berperan dalam pembangunan maritim ke depan.

Akan sangat sulit jika saat ini peran pemuda kemudian dikebiri tanpa diberikan apresiasi. Ruang ekspresi dan gagasan pemuda tidak hanya cukup pada tataran formalitas penghargaan dan beasiswa. Pemuda membutuhkan wadah dan lahan konkret untuk dapat menata Indonesia di kemudian hari.

Persepsi buruk kadang ditimbulkan jika kritik keras disampaikan oleh para pemuda. Ini menjadi dilematis melihat pembangunan indonesia kedepan membutuhkan mereka yang memiliki analisis tajam sekaligus pandai dalam retorika dan pengkondisian masa.

Pemuda Indonesia yang saat ini ada merupakan sebuah potensi besar yang dimiliki oleh Indonesia. Prof Rokhmin Dahuri  pada tahun 2014 pernah menerangkan dengan jumlah 66.5 % usia 14-64 tahun, kemudian dengan rata-rata median rate 28.6 tahun menurut data dari CIA World Factbook 2016.

Tentunya dengan potensi yang ada saat ini kemudian diiriskan dengan potensi kemaritiman Indonesia sebesar USD 1,2 triliun per tahun, dengan kemampuan penyerapan angkatan kerja sebesar Jumlah itu bisa menyediakan lapangan kerja untuk 40 juta orang. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah potensi yang sangat besar jika mampu dimaksimalkan.

Pemuda dan Maritim

Dalam pembangunan maritim ke depan, pemuda merupakan ujung tombak yang seharusnya mampu dioptimalkan potensinya. Dengan menempatkan pemuda sebagai subjek dalam pengembangan potensi kemaritiman merupakan sebuah gagasan yang perlu dipertimbangkan. Jika kita coba memilah potensi besar maritim Indonesia, pemerintah perlu memposisikan diri sebagai sebuah entitas hilir perekonomian. Hal tersebut dengan alasan untuk mendorong keterjaminan pasar bagi pembangunan maritime.

Tentunya itu sebagai salah satu upaya untuk mendorong naiknya pertumbuhan pengusaha baru dalam bidang maritim, karena ekonomi merupakan salah satu parameter yang cukup terukur untuk melihat pertumbuhan.

Selanjutnya dengan mengembangkan pertemuan empat faktor entitas yang sangat berpengaruh yakni pemerintah, pengusaha, masyarakat dan media sebagai sebuah satu kesatuan. Entitas pemuda yang berperan dalam masyarakat perlu didorong untuk dapat melakukan inovasi dan kreasi dalam upaya pembangunan maritim Indonesia.

Perlu kita ingat bahwa pembangunan maritim Indonesia akan sangat tidak ada artinya jika masyarakat pesisir masih jauh dari kata sejahtera. Ini merupakan parameter yang secara umum perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah.

Jika Indonesia bicara menjadi poros maritim dunia, namun jauh meninggalkan pemuda dalam upaya mewujudkannya, agenda tersebut akan menjadi sangat utopis. Perlu diingat bahwa maritim merupakan masa depan bangsa yang manfaatnya akan mampu dirasakan pada beberapa tahun yang akan datang.

 

*Penulis adalah Sekjen Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI), Pengamat Maritim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Twitter Instagram Linkedin Youtube