Foto Bersama - Para peserta P3MI di Bumi Marinir Cilandak. (Foto: Ahlan Zulfakhri)
Foto Bersama – Para peserta P3MI di Bumi Marinir Cilandak. (Foto: Ahlan Zulfakhri)

MNOL, Jakarta – Pemilihan putra putri maritim merupakan agenda pertama yang diadakan, dengan tujuan mencari pemuda-pemudi daerah yang memiliki wawasan kemaritiman. Hal tersebut merupakan sebuah dukungan agar ke depan Indonesia memiliki generasi penerus kemaritiman yang cukup mumpuni.

“Tahun 2016, merupakan tahun pertama kegiatan P3MI digelar, adapun kegiatan ini diikuti oleh 67 peserta yang mewakili daerah nya masing-masing, dari Sabang samapai Merauke,” terang Ketua Panitia Pemilihan Putra-Putri Maritim Indonesia (P3MI) Ifa Dakhiri di sela-sela acara grand final P3MI di dermaga Kolinlamil, Jakarta (30/11).

Event ini merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Dharma Ayu Bahari (YDAB) dengan TNI AL, KLHK, KKP, Kementerian Pariwisata, Kemnaker, dan Kemenpora serta Bank Mandiri, Danar Hadi, Inez cosmetic, Angkasa Pura dan APMI (Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia).

Ifa juga menerangkan bahwa para finalis merupakan merupakan jagoan-jagoan dari masing-masing daerah, serta menjadi presentatif dari daerah tersebut.

“Dengan harapan para peserta nantinya diharapakan mampu mengenalkan potensi daeranya masing-masing,” ujarnya.

Para finalis P3MI ini sebelumnya juga melalui proses karantina yang dilakukan di Bumi Marinir Cilandak yang ditempa pelatihan mental, fisik, kedisiplinan, kepemimpinan dan wawasan kemaritiman.

“Kami memilih melibatkan Marinir dalam pelatihan dengan harapan para peserta bukan hanya mampu menjadi seorng duta kemaritiman, melainkan juga memiliki karakter yang kuat seperti kedisiplinan, kemandirian dan kepemimpinan,” tambah istri dari Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri tersebut.

Ifa Dakhir (kiri) bersama Sekjen APMI Ahlan Zulfakhri (kana)
Ifa Dakhir (kiri) bersama Sekjen APMI Ahlan Zulfakhri (kana)

Selama proses karantina para peserta juga memiliki agenda penanaman mangrove di Pantai Indah Kapuk sebagai bentuk pelestarian terhadap lingkungan pesisir.

“Penanaman mangrove merupakan salah satu bentuk kontribusi dalam bidang kemaritiman, agar peserta dapat lebih dekat mengenal kemaritiman, khususnya soal kelestarian lingkungan,” bebernya.

Karantina yang diadakan selama sepuluh hari di Bumi Marinir Cilandak itu, sambung Ifa merupakan bentuk penempaan agar semakin matang dalam berkontribusi untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Kendati sepuluh hari pelatihan begitu singkat, namun harapannya dengan pelatihan ini menjadi pemantik para peserta untuk dapat menanamkan karakter kemaritiman yang cukup kuat.

“Karena lima belas sampai dua puluh tahun lagi generasi inilah yang akan memimpin Indonesia,” pungkasnya. (Tan/MN)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Twitter Instagram Linkedin Youtube