
MNOL, Semarang – Penulis buku berjudul My Fish My Life: Ketahanan Pangan dari Laut, Sea Power Perspective, Letkol Laut (P) Salim, dalam acara bedah bukunya di Aula Dekanat Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, beberapa waktu lalu mengurai tentang potensi kekayaan laut Indonesia yang melimpah, namun justru asing yang menikmati.
Dia menyebut, salah satu kekayaan itu ialah kandungan energi yang sangat banyak. Namun sayang, justru asing yang menikmati kekayaan alam tersebut.
“Nilai ekonomi kelautan per tahunnya mencapai tujuh kali APBN tahun 2010. Tapi baru digarap hanya 10 persennya,” ujar Salim dalam acara itu.
Selanjutnya, lulusan AAL tahun 1995 ini menyebut para negara adi daya tengah berlomba-lomba untuk menguasai kawasan Indonesia yang kaya akan kandungan energinya, seperti Kepulauan Natuna.
“Kepualauan Natuna yang berdekatan dengan Laut China Selatan memiliki kandungan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik bahkan dunia. Di dalam perut buminya juga bergelimangan minyak,” tutur Salim.
Lebih lanjut, Pamen TNI AL yang kerap berpuasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) itu menyebutkan kepulauan ini mengandung cadangan gas alam dengan volume sebesar 222 triliun kaki kubik. “Angka tersebut belum termasuk cadangan gas alam yang terletak di bagian barat Natuna yang kini tengah dikelola juragan migas raksasa kelas dunia,” tambahnya.
Tak hanya itu di Natuna juga diselimuti minyak bumi yang seolah-olah tiada habisnya. Sumur-sumur offshore yang berada di timur Natuna terus memancarkan minyaknya.
Masih kata Salim, migas yang berasal dari pelapukan fosil binatang laut selama jutaan tahun silam itu memberi kontribusi sekitar 10,11 persen dari perekonomian Kepri.
“Pendapatan dari penambangan migas di seluruh sumur eksplorasi di Natuna sangat menggiurkan. Betapa makmur dan sejahteranya bangsa Indonesia bila semua hasil eksplorasi itu dinikmati oleh kita,” selorohnya.
Akan tetapi keadaanya tidak demikian. Sebagian besar hasil eksplorasi tersebut dikuasai oleh perusahaan swasta asing. Di mana modal, tenaga ahli, maupun peralatannya hampir seluruhnya disuplai oleh Exxon Mobil, ConocoPhilips, Star Energy dan Primer Oil.
Tidak cukup sampai di situ, baru-baru ini kunjungan Presiden Joko Widodo dan Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan ke China juga meminta agar pengusaha China berbondong-bondong berinvestasi di laut Indonesia.
Sunggu ironis bila masyarakat Natuna saat ini memiliki IPM (Indeks Pembangunan Manusia) terendah di Indonesia.
“Triliunan rupiah menguap ke negara lain, sementara masyarakat Natuna tidak sejahtera. Berarti ada yang salah dengan konsep kita selama ini,” tegasnya.
Pamen TNI AL yang rajin menulis buku tersebut memaparkan solusi konkret agar kondisi itu tidak terjadi di kemudian hari ialah dengan kembali kepada jati diri bangsa sebagai bangsa maritim yang berfilosofikan Pancasila.
“Visi ocean leadership dan national character-nya harus dibangun sesuai dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia yaitu sebagai bangsa maritim yang berdasar Pancasila, dengan UUD 1945 yang asli sebagai koridor dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegaranya,” pungkas Salim. (Tan)
